cari

Tampilkan postingan dengan label menumbuhkan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menumbuhkan. Tampilkan semua postingan

Peran Sekolah Menumbuhkan Minat Berorganisasi Siswa



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan bagi siswa untuk kegiatan belajar mengajar. Selain kegiatan belajar mengajar, sekolah juga mendukung adanya kegiatan siswa. Kegiatan siswa adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa yang mempunyai tujuan tertentu. Kegiatan siswa juga pasti kegiatan yang beresensi dan dapat diambil manfaatnya. Kegiatan siswa itu sendiri dapat berupa kegiatan ekstrakulikuler dan kegiatan organisasi di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Kegiatan siswa dilakukan untuk menambah pengalaman siswa itu sendiri. Selain itu juga untuk melepas penat agar siswa tidak hanya belajar, menambah ketrampilan dan sosialisasi. Hal itu dapat mendukung akademik maupun non akademik. Selain menunjang untuk kedekatan dengan sekolah, kegiatan siswa juga dapat  merekatkan hubungan antar siswa. Organisasi adalah sekelompok individu yang berkumpul dalam suatu wadah untuk mencapai tujuan yang sama, organisasi itu sebuah wadah yang menampung aspirasi, cita cita, harapan orang-orang. Organisasi memiliki karakter tersendiri, jati diri, sejarah, kisah, suka, sedih, cita-cita, aspiras harapan orang banyak. Organisasi adalah sebuah sebuah sarana sosialisasi dan sebagai wadah yang dibuat untuk menampung aspirasi masyarakat serta untuk mencapai tujuan bersama.
Organisasi merupakan suatu wadah untuk mencapai tujuan yang sama,organisasi mempunya tujuan, visi dan misi yang jelas, organisasi memegang pernanan penting dalam suatu masyarakat, karena organisasi dapat membantu/mengajak masyarakat untuk lebih aktif dalam lingkungan dan kehidupannya,organisasi bisa sebagai pendukung proses sosialisasi yang berjalan di sebuah lingkungan bermasyrakat.Organisasi bisa juga disebut kumpulan orang-orang yang memiliki kesamaan. Di sekolah anak berinteraksi dengn guru-guru, teman-teman peserta didik lainnya, serta pegawai-pagawai tata usaha. Ia memperoleh pendidikan formal. Akibat beresosialisasi dengan pendidikan formal. Terbentuklah kepribadian dan wataknya sesuai budaya yang ada di sekolah itu.Dalam bersosialisasi ia akan menemukan kendala-kendala yang menghambatnya dalam proses adaptasi terhadap lingkungan pendidikan dimana ia berada.
Selain manfaat yang dapat diambil pada suatu kegiatan siswa, juga terdapat hambatan yang ada pada kegiatan siswa. Hambatan ini bisa terjadi karena orang yang ikut serta dalam kegiatan kurang aktif ataupun karena waktu dan tempat yang tidak memungkinkan. Dalam hal itu hambatan yang terjadi pada orang yang bersangkutan tergantung pada masing-masing orang bagaimana cara mengatasi hambatan tersebut. Ada berbagai cara untuk mengatasi masalah dalam kegiatan siswa. Salah satunya adalah memberi motivasi agar siswa tersebut dapat aktif dalam kegiatan dan dapat mengambil esensi dari kegiatan yang diikuti.

1.2 Rumusan masalah
1.  Bagaimana peran sekolah dalam  meningkatkan minat siswa berorganisasi?
2.  Apa manfaat bersosialisasi di sebuah organisasi bagi siswa?

1.3  Tujuan
1.    Menjelaskan peran sekolah dalam  meningkatkan minat siswa berorganisasi
2.    manfaat bersosialisasi di sebuah organisasi bagi siswa

1.4  Manfaat
Adapun manfaat karya tulis ini adalah :
a.    Menyadarkan siswa dan siswi agar sadar bahwa perlunya pengembangan terhadap diri sendiri dalam besosialisasi di sebuah organisasi.
b.    Meningkatkan kreatifitas dan kemampuan siswa dalam mengungkapkan pendapat .





BAB  II
ISI

2.1 Landasan Teori
A. Pengertian Sosialisasi
Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu. Pada hakikatnya proses sosialisasi merupakan hasil dari interaksi antar manusia. Selama manusia masih berinteraksi, proses sosialisasi pun masih berlangsung.
Proses sosialisasi dilakukan setiap orang sejak lahir di muka bumi sampai meninggal. Bahkan, seorang bayi yang baru lahir melakukan sosialisasi. Contohnya belajar membuka mata untuk melihat dunia, belajar memegang sesuatu, dan belajar merasakan sesuatu. Bersamaan dengan berjalannya waktu, pembelajaran bayi mengenai dunia semakin kompleks. Misalnya belajar berjalan, berbicara, makan, dan mengenal lingkungan sekitar. Berdasarkan tahapannya, proses sosialisasi seseorang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sosialisasi primer dan sekunder.
Berikut pengertian sosialisasi menurut para ahli :
a.  Charlotte Buhler  : Sosialisasi adalah proses yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup, dan berpikir kelompoknya agar ia dapat berperan dan berfungsi dengan kelompoknya.
b.  Peter Berger  : Sosialisasi adalah suatu proses dimana seseorang menghayati serta memahami norma-norma dalam masyarakat tempat tinggalnya sehingga akan membentuk kepribadiannya.
c.   Paul B. Horton  : Sosialisasi adalah suatu proses dimana seseorang menghayati serta memahami norma-norma dalam masyarakat tempat tinggalnya sehingga akan membentuk kepribadiannya.
d.  Soerjono Soekanto : Sosialisasi adalah proses mengkomunikasikan kebudayaan kepada warga masyarakat yang baru.



B. Jenis Sosialisasi
a.  Sosialisasi Primer
Sosialisasi primer terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun. Pada usia ini seorang anak mengenal lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga. Anak mulai mengenal ayah, ibu, kakak, paman, bibi, nenek, dan kakek. Melalui sosialisasi primer anak belajar tolong-menolong, toleransi, rela berkorban, taat beribadah, jujur, dan menyayangi anggota keluarga.
Proses sosialisasi primer mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadian seorang anak. Hal ini karena anak akan menerapkan hasil belajarnya dalam keluarga ke dalam pergaulan di masyarakat. Proses sosialisasi primer merupakan dasar seseorang melakukan sosialisasi sekunder.

b. Sosialisasi Sekunder
Sosialisasi sekunder terjadi setelah sosialisasi primer berlangsung. Pada sosialisasi sekunder seseorang belajar memahami lingkungan di luar keluarganya. Pada proses sosialisasi itu masyarakat atau orang lain mempunyai peranan penting. Sosialisasi sekunder diterima melalui pendidikan di sekolah dan pengalaman hidup. Ketika seseorang belajar menghormati guru, menyayangi sahabat, menghargai tetangga, pada saat itulah sosialisasi sekunder sedang berlangsung.
Hal ini menunjukkan setiap individu melakukan proses sosialisasi tanpa terkecuali. Setiap individu melakukan sosialisasi karena individu tersebut berupaya menjadi bagian dari suatu masyarakat. Melalui sosialisasi, individu mengenal dan memahami kebiasaan, perilaku, adat istiadat, dan peraturan lain yang berlaku di masyarakat. Secara umum, terdapat dua pola sosialisasi yang berkembang di masyarakat, yaitu sosialisasi represif dan partisipatif.






C. Proses Sosialisasi
 Pendapat beberapa ahli sosial mengenai pengertian proses sosialisasi.
1) Krathwohl
Proses sosialisasi adalah proses yang mengusahakan seseorang menjadi peka terhadap rangsangan masyarakatnya dan menyesuaikan diri serta berperilaku seperti orang lain dalam masyarakatnya atau kebudayaannya.
2) Laurence
Proses sosialisasi adalah proses pendidikan atau latihan seseorang yang belum berpengalaman dalam suatu kebudayaan dan berusaha menguasai kebudayaan sebagai aspek perilakunya.
3) Guire
Proses sosialisasi adalah proses penyajian kemungkinan-kemungkinan perilaku perorangan dengan sanksi positif atau negatif yang menyebabkan penerimaan atau penolakan oleh orang lain.
4) Lawang, Robert M.Z.
Proses sosialisasi adalah proses mempelajari norma, nilai, peran, dan semua persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan berpartisipasi yang efektif dalam kehidupan sosial.

D. Definisi Organisasi
Suatu organisasi di bentuk karena mempunyai dasar dan tujuan yang ingin dicapai.Pencapaian tujuan bukan hanya kepuasan individual, tetapi kepuasan dan manfaat bersama.
Untuk itu kalau kita berbicara tentang organisasi maka sebagian dari para ahli berpendapat ,bahwa organisasi ditinjau dari segi etimologis adalah berasal dari kata “organ”yang berarti susunan badan manusia yang terdiri dari berbagai bagian menuju satu tujuan .
Jika ditinjau dari segi terminology {istilah}sebagaimana yang dikemukakan oleh James D Mooney ,organisasi adalah bentuk perserikatan manusia untuk mencapai suatu tujuan bersama.Akan tetapi perlu kita fahami bahwa yang menjadi dasar organisasi, bukan “siapanya”akan tetapi “apanya”yang berarti bahwa yang dipentingkan bukan siapa orang yang akan memegang organisasi ,tetapi “apakah”tugas dari dari organisasi ?.Masih banyak rumusan-rumusan pendapat tentang organisasi, akan tetapi dapat kita ambil kesimpulan ada kesamaan dasar tentang organisasi .
a.  Adanya sekelompok orang yang saling bekerjasama.
b.  Adanya tujuan yang sama
c.   Adanya bentuk/struktur.
d.  Adanya aktivitas.
E.  Prinsip organisasi
Suatu organisasi bisa dikatakan solid jika memiliki sifat sebagai berikut:
a.    mempunyai tujuan yang jelas .
b.    tujuan organisasi harus di terima dan di fahami oleh setiap orang di dalam organisasi.
c.    memiliki kesatuan arah.
d.    adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggungjawab.
e.    berkesinambungan .
f.     penempatan orang harus sesuai ahlinya.
g.    adanya pembagian tugas.
2.2 pembahasan                
A.  Peran Sekolah Dalam  Meningkatkan Minat Siswa Berorganisasi
          Ketertarikan atau minat siswa terhadap organisasi yang ada di sekolah dipengaruhi oleh beberapa hal seperti:
a.  Kebutuhan psikologis, seperti pertemanan, merasakan kebersamaan.
b.  Kebutuhan untuk mewujudkan cita-cita atau pengembangan bakat Keinginan dan cita-cita dapat mendorong munculnya minat terhadap sesuatu, seperti keinginan atau cita-cita menjadi dokter. Secara otomatis orang tersebut terdorong dan berminat untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan ilmu kedokteran (kesehatan, penyakit-penyakit). Semakin besar cita-cita atau keinginan, maka semakin besar/tinggi minat yang muncul dalam diri seseorang.
c.   Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan terdiri dari dua lingkup, yakni lingkup mikro (individual) dan lingkup makro (sosial,adat istiadat) kebudayaan dapat memunculkan minat-minat tertentu seperti tari-tarian, lagu, karya seni, semua itu akan menarik orang untuk memperhatikan dan mempelajari kebudayaan dari daerah asal kesenian tersebut. Begitu juga berorganisasi, minat berorganisasi siswa dapat timbul karena adanya kebiasaan belajar.
Sedangkan hal-hal yang bisa dilakukan sekolah untuk meningkatkan minat siswa dalam berorganisasi salah satunya yaitu:
1.    Melakukan penelusuran minat siswa.
Penelusuran minat siswa ini dilakukan oleh sekolah bisa dengan berbagai cara, baik secara angket maupun kegiatan psikotest, sehingga hasil yang di dapat lebih akurat, karena berasal dari diri siswa secara langsung.
2.    Pemberian nilai
Pemberian nilai ini dimaksudkan agar siswa lebih tertarik dalam mengikuti organisasi, karena banyak siswa yang berfikir malas mengikuti sebuah organisasi dikarenakan tidak adanya reward dari sekolah, sehingga pemberian nilai ini diharapkan dapat menjadi motivator bagi siswa dalam mengikuti organisasi.
3.    Penyediaan sarana dan prasarana
Sekolah dapat menyediakan sarana dan prasarana untuk setiap organisasi sehingga dapat menunjang berjalannya organisasi tersebut dengan baik dan memberikan dampak yang baik pula bagi siswanya.


B.  Fungsi Dan Peranan Sekolah Dalam Proses Sosialisasi Di Sebuah Organisasi
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa jalur pendidikan sekolah/formal merupakan jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang (Pasal 1 ayat 10). Peranan sekolah sebagai lembaga yang membantu lingkungan keluarga, maka sekolah bertugas mendidik dan mengajar serta memperbaiki dan memperhalus tingkah laku anak didik yang dibawa dari keluarganya. Sementara dalam perkembangan kepribadian anak didik, peranan sekolah dengan melalui kurikulum, antara lain yaitu sebagai berikut:
a. Anak didik belajar bergaul sesama anak didik, antara guru dengan anak didik, dan antara anak didik dengan orang yang bukan guru (karyawan).
b. Anak didik belajar mentaati peraturan-peraturan sekolah.
c. Mempersiapkan anak didik untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa dan negara.
Bisa dikatakan bahwa sebagian besar pembentukan kecerdasan (pengertian), sikap dan minat sebagai bagian dari pembentukan kepribadian, dilaksanakan oleh sekolah. Kenyataan ini menunjukkan, betapa penting dan besar pengaruh dari sekolah. Tentang fungsi sekolah itu sendiri adalah sebagai berikut.
a. Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan; di samping bertugas untuk mengembangkan pribadi anak didik secara menyeluruh, fungsi sekolah yang lebih penting sebenarnya adalah menyampaikan pengetahuan dan melaksanakan pendidikan kecerdasan. Fungsi sekolah dalam pendidikan intelektual dapat disamakan dengan fungsi keluarga dalam pendidikan moral.
b. Spesialisasi; sebagai konsekuensi makin meningkatnya kemajuan masyarakat ialah makin bertambahnya diferensiasi sosial yang melaksanakan tugas tersebut. Sekolah mempunyai fungsi
sebagai lembaga sosial yang spesialisasinya dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
c. Efisiensi; terdapatnya sekolah sebagai lembaga sosial yang berspesialisasi di bidang pendidikan dan pengajaran, maka pelaksanaan pendidikan dan pengajaran dalam masyarakat menjadi lebih efisien, sebab
1) Apabila tidak ada sekolah dan pekerjaan mendidik hanya harus dipikul oleh keluarga, maka hal ini tidak akan efisien, karena orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaannya, serta banyak orang tua tidak mampu melaksanakan pendidikan dimaksud.
2) Oleh karena pendidikan sekolah dilaksanakan dalam program yang tertentu dan sistematis.
3)  Di sekolah dapat dididik sejumlah besar anak secara sekaligus.
Jadi dalam hal ini sekolah mempunyai peranan yang penting dalam proses sosialisasi yaitu proses unutk membantu perkembangan individu menjadi makhluk sosial serta makhluk yang dapat beradaptasi dengan baik di masyarakat.
C. Manfaat Berorganisasi
1. Menumbuhkan rasa kebersamaan
Di dalam sebuah organisasi, di mana terdiri dari sekelompok orang atau anggota membuat setiap siswa yang menjadi anggota, dapat merasakan kebersamaan ketika mereka melakukan suatu kegiatan rutinitas yang selalu bersama-sama. Hal ini tentu saja sangat bermanfaat bagi psikologis setiap siswa, terutama siswa yang kurang terbiasa bergaul atau cenderung penyendiri.


2. Memperkuat tali persaudaraan
Dari kegiatan yang cenderung selalu di lakukan bersama-sama tersebut, membuat siswa merasa semakin dekat dengan antar anggota yang lain sehingga tali persaudaraanpun meningkat.
3. Menebarkan rasa tolong-menolong
Ketika setiap siswa melakukan kegiatan di dalam organisasinya, dengan tali persaudaraan yang begitu solid, membuat siswa terbiasa untuk saling tolong-menolong, toleransi dan solidaritas.
4. Memperkaya informasi 
Tentu saja, ketika seorang siswa mulai memasuki sebuah organisasi, itu berarti menambah pula informasi atau ilmu yang di dapatnya, sehingga siswa tidak hanya mendapat informasi atau ilmu dari pelajaran di kelas formal saja melainkan melalui organisasi juga.
5. Meningkatkan kualitas pribadi
Kebersamaan yang di rasakan oleh siswa yang aktif di sebuah organisasi, membuat adanya perubahan dari kualitas pribadi setiap siswa, yaitu tentu saja perubahan kea rah yang lebih baik, contohnya : Siswa menjadi lebih sabar, mudah bergaul, tidak pemalu, berani menyatakan pendapat, dan percaya diri.
6. Membangkitkan semangat juang
Organisasi atau ekstakulikuler yang ada di sekolah seperti paskibra,pmr,dan ekstrakulikuler lain yang secara umum sering mengikuti ajang-ajang perlombaan membuat para siswa yang aktif dalam ekstrakulikuler tersebut memiliki semangat juang yang tinggi demi mencapai target kemenangan maupun target mengharumkan nama baik diri, organisasi dan sekolah. 

7. Mengurangi Sifat Egois
Siswa yang aktif di dalam organisasi, otomatis akan sering melakukan musyawarah demi menyelesaikan masalah, dan di dalam musyawarah tersebut siswa di tuntut membiasakan diri menerima pendapat orang lain, sehingga perlahan-lahan dapat mengikis sifat egoisme yang ada di dalam diri setiap siswa.
8. Meningkatkan Kemampuan Bersosialisasi
Bentuk organisasi yaitu perkumpulan sekelompok orang yang memiliki tujuan sama, oleh karena itu setiap siswa yang berperan aktif di dalam organisasi cenderung terbiasa bersosialisasi dengan banyak orang yang ada di sekelilingnya, dengan kata lain meningkatkan kemampuan bergaul.
9. Belajar berbicara di depan umum
Banyak sekali siswa setingkat SMA yang belum atau bahkan tidak berani berbicara di depan forum, maka di dalam sebuah organisasilah mereka dapat belajar bagaimana cara berbicara di depan umum, meskipun hal ini di pelajari secara tidak langsung di dalam sebuah organisasi, tetapi karena kegiatan tersebut menuntut setiap siswa untuk berbicara atau memimpin pembicaraan di depan sebuah forum, otomatis membuat mereka terlatih untuk berbicara di depan umum dengan percaya diri. 
10. Belajar manajemen organisasi
Mengatur suatu organisasi tentulah bukan hal yang mudah, oleh karena itu di perlukan pengalaman sebelumnya. Maka, di sinilah setiap siswa di tuntut agar bisa mengatur dan memanage semua hal yang ada di organisasi tempatnya bernaung, sebagai bekal untuk berserikat dengan organisasi yang lebih besar lagi ketika mereka terjun di masyarakat di masa depan.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pentingnya mengikuti organisasi di sekolah dapat menambah wawasan dan pengalaman. Selain menambah wawasan dan pengalaman, organisasi juga membantu kita mengetahui dan mengembangkan bakat: misalnya, lewat kegiatan organisasi kita bisa menemukan kelebihan dan bakat yang selama ini terpendam. Satu hal yang pasti,siswa mampu besosialisasi aktif dalam organisasi berarti menambah teman yang bukan hanya teman sekelas atau teman di lingkungan rumah. Melalui organisasi, kamu akan mendapat lingkungan pergaulan yang berbeda.


3.2 Saran
Sekolah mempersiapkan individu untuk peran-peran baru di masa mendatang manakala seorang anak tidak lagi tergantung pada orang tuanya, yaitu dengan melalui kegiatan dalam organisasi yang mengajarkan hal-hal baru yang tidak diajarkan dalam keluarga maupun kelompok sepermainannya, seperti: pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai, yang bertujuan untuk mempengaruhi perkembangan intelektual siswa.














DAFTAR PUSTAKA

Cohen, Bruce J. dan Simamora, Sahat, Drs. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT
Bina Aksara, 1983.
Horton, Paul B. dan Chester L. Hunt. 1984. Sociology. Edisi keenam. International Shadily, Hassan. Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta,
1993.
Student Edition. Tokyo: Mc.Graw-Hill Book Company Inc.Hlm. 89
Stephen P.Robbins. Teori Organisasi Struktur, Desain, dan Aplikasi, (Jakarta: Arcan: 1994), hlm.4
Sunarto, Kamanto. Pengantar Sosiologi (Edisi Revisi). Jakarta: Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004.
Paul, Horton dan Hunt, Chester L. Sociology Edisi Keenam (International Student
Edition). Tokyo: McGraw-Hill, 1984.


















LAMPIRAN - LAMPIRAN


tari.jpgtari1.jpg




tr.jpg









Pentingnya Menumbuhkan Budaya Gema Membaca



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Sebagai seorang pelajar hendaknya selalu membaca            buku pelajaran dan mengulang pelajaran yang diberikan oleh guru di rumah, agar ilmu yang diperoleh lebih maksimal dan daya ingat akan pelajaran lebih kuat. Salah satu realitas yang sering terjadi di kalangan pelajar adalah sikap malas dalam membaca. Membaca merupakan salah satu cara untuk menambah ilmu pengetahuan dan informasi serta dapat meningkatkan potensi yang ada dalam diri kita. Harus disadari juga bahwa rendahnya minat baca ini dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya : lingkungan sekitar yang tidak mendukung, misalnya : lingkungan yang mempunyai banyak anak-anak senang bermain, hal ini dapat mempengaruhi siswa karena jika ada faktor dari luar yang mendorong untuk bermain, maka cendrung siswa tersebut akan terpengaruh.
Dengan rendahnya minat baca siswa terhadap pelajaran  maka mempengaruhi prestasi belajar yang diperoleh siswa. Akibat yang seperti ini menimbulkan rendahnya kualitas sekolah tersebut, karena prestasi siswa yang dibawah rata-rata. Buku pelajaran merupakan sumber ilmu dalam meningkatkan prestasi siswa, sehingga perlu ditingkatkan minat membaca siswa agar prestasi yang diperoleh siswa menjadi lebih baik.
Kurangnya kesadaran akan pentingnya membaca, hal ini mengakibatkan sepinya pengunjung perpustakaan untuk membaca buku. Kejadian seperti ini sungguh memperihatinkan, karena kita tahu sebagai pelajar kita harus banyak membaca agar ilmu yang kita peroleh semakin berkembang.

1.2  Rumusan Masalah
1.    Bagaimana faktor yang mempengaruhi minat baca ?
2.    Mengapa menumbuhkan budaya gemar membaca itu penting ?


1.3  Tujuan
1.    Menjelaskan faktor yang mempengaruhi minat baca 
2.   Menjelaskan pentingnya menumbuhkan budaya gemar membaca
3.    
1.4 Manfaat
1.    Mengetahui faktor yang mempengaruhi minat baca 
2.    Mengetahui menumbukan budaya gemar membaca


















BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian prestasi
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan. Gagne (1985:40) menyatakan bahwa prestasi belajar dibedakan menjadi lima aspek, yaitu : kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan. Menurut Bloom dalam Suharsimi Arikunto (1990:110) bahwa hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Prestasi merupakan kecakapan atau hasil kongkrit yang dapat dicapai pada saat atau periode tertentu. Berdasarkan pendapat tersebut, prestasi dalam penelitian ini adalah hasil yang telah dicapai siswa dalam proses pembelajaran.
2.2  Pengertian Belajar
Untuk memahami tentang pengertian belajar di sini akan diawali dengan mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. Ada beberapa pendapat para ahli tentang definisi tentang belajar. Cronbach, Harold Spears dan Geoch dalam Sardiman A.M (2005:20) sebagai berikut :
1)   Cronbach memberikan definisi :
“Learning is shown by a change in  behavior as a result of experience”.
“Belajar adalah memperlihatkan perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari pengalaman”.
2)   Harold Spears memberikan batasan:
“Learning is to observe, to read, to initiate, to try something themselves, to listen, to follow direction”.
Belajar adalah mengamati, membaca, berinisiasi, mencoba sesuatu sendiri, mendengarkan, mengikuti petunjuk/arahan.
3)   Geoch, mengatakan :
“Learning is a change in performance as a result of practice”.Belajar adalah perubahan dalam penampilan sebagai hasil praktek.
Dari ketiga definisi diatas dapat disimpulkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik kalau si subyek belajar itu mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik. Belajar sebagai kegiatan individu sebenarnya merupakan rangsangan-rangsangan individu yang dikirim kepadanya oleh lingkungan. Dengan demikian terjadinya kegiatan belajar yang dilakukan oleh seorang idnividu dapat dijelaskan dengan rumus antara individu dan lingkungan.
Fontana seperti yang dikutip oleh Udin S. Winataputra (1995:2) dikemukakan bahwa learning (belajar) mengandung pengertian proses perubahan yang relative tetap dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman. Pengertian belajar juga dikemukakan oleh Slameto (2003:2) yakni belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Selaras dengan pendapat-pendapat di atas, Thursan Hakim (2000:1) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dll. Hal ini berarti bahwa peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang diperlihatkan dalam bentuk bertambahnya kualitas dan kuantitas kemampuan seseorang dalam berbagai bidang. Dalam proses belajar, apabila seseorang tidak mendapatkan suatu peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan, maka orang tersebut sebenarnya belum mengalami  proses belajar atau dengan kata lain ia mengalami kegagalan di dalam proses belajar.
Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan prestasi belajar yang baik perlu diperhatikan kondisi internal dan eksternal. Kondisi internal dalah kondisi atau situasi yang ada dalam diri siswa, seperti kesehatan, keterampilan, kemapuan dan sebaginya. Kondisi eksternal adalah kondisi yang ada di luar diri pribadi manusia, misalnya ruang belajar yang bersih, sarana dan prasaran belajar yang memadai.
Winkel (1996:226) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Maka prestasi belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar. Sedangkan menurut Arif Gunarso (1993 : 77) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah usaha maksimal yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar.
Prestasi belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan. Jadi prestasi belajar adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu. Prestasi belajar merupakan hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes yang relevan.
Prestasi belajar dapat diukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes prestasi belajar. Menurut Saifudin Anwar (2005 : 8-9) mengemukakan tentang tes prestasi belajar bila dilihat dari tujuannya yaitu mengungkap keberhasilan sesorang dalam belajar. Testing pada hakikatnya menggali informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Tes prestasi belajar berupa tes yang disusun secara terrencana  untuk mengungkap performasi maksimal subyek dalam menguasai bahan-bahan atau materi yang telah diajarkan. Dalam kegiatan pendidikan formal tes prestasi belajar dapat berbentuk ulangan harian, tes formatif, tes sumatif, bahkan ebtanas dan ujian-ujian masuk perguruan tinggi.Pengertian prestasi belajar adalah sesuatu yang dapat dicapai atau tidak dapat dicapai. Untuk mencapai suatu prestasi belajar siswa harus mengalami proses pembelajaran. Dalam melaksanakan proses pembelajaran siswa akan mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan.
2.3  Gemar Membaca
Kegiatan membaca bersama antara anak dan orang tua berpengaruh terhadap sikap dan minat membaca anak. Melalui program membaca bersama antara orang tua dan anak, anak-anak jadi suka mengisi waktu luangnya dengan aktivitas membaca, mereka suka membaca bersama orang dewasa yang lain, suka membaca majalah dan buku-buku yang ada di rumah dan di perpustakaan sekolah. Buku-buku dan perlengkapan membaca merupakan dukungan instrumental untuk mendidik anak, program pelatihan untuk orang tua agar terlibat secara efektif dalam program membaca keluarga merupakan dukungan informatif yang sangat berguna bagi orang tua untuk memberikan dukungan penghargaan dan emosi kepada anak saat mereka membaca bersama.
Banyak cara yang ditempuh agar seseorang memperoleh pengetahuan. Salah satunya yang paling sering dilakukan adalah melalui membaca. Ini tampaknya lebih menekankan pengertian membaca sebagai kegiatan seseorang untuk memperoleh pengetahuan melalui sumber-sumber tekstual, seperti buku, artikel, koran dan sebagainya, dengan menggunakan mata atau pandangan sebagai alat utamanya. Jika diperluas lagi, pengertian membaca di sini sebenarnya tidak hanya persepsi visual terhadap bentuk rangkaian kata-kata (verbal) tetapi juga dapat berbentuk simbol-simbol lainnya, seperti angka, gambar, diagram, tabel yang di dalamnya memiliki arti dan maksud tertentu.
Yang dimaksud membaca ialah menangkap pikiran dan perasaan orang lain dengan perantaraan tulisan (gambar dari bahasa yang dilisankan). Tujuannya ialah menangkap bahasa yang tertulis dengan tepat dan teratur.
Melalui aktivitas membaca, seseorang dapat mengenal suatu objek, ide prosedur konsep, definisi, nama, peristiwa, rumus, teori, atau kesimpulan. Bahkan lebih dari itu, melalui aktivitas membaca seseorang dapat mencapai kemampuan kognitif yang lebih tinggi, seperti menjelaskan, menganalisis, hingga mengevaluasi suatu objek atau kejadian tertentu.
Minat baca berbanding lurus dengan kemajuan suatu bangsa. Bangsa yang besar minat bacanya pastilah bangsa yang maju. Mereka akan membaca dalam setiap kesempatan contohnya terlihat tidak hanya dalam perpustakaan umum dan pribadi tetapi juga di stasiun, di kereta,dan dalam perjalanan pun mereka membaca.
Membaca adalah kunci ke gudang ilmu. Ilmu yang tersimpan dalam buku harus digali dan dicari melalui kegiatan membaca. Keterampilan membaca menentukan hasil penggalian ilmu itu. Karena itu dapat dikatakan keterampilan membaca sangat diperlukan dalam dunia modern.
Sedangkan makna dari membaca adalah menduga, memperhitungkan, dan memahami. Berdasarkan arti membaca tersebut, pengertian membaca mencakup dua hal. Pengertian yang pertama yaitu membaca teks-teks yang terurai dari huruf demi huruf kemudian membentuk kata lalu terangkai dalam kalimat dan padu dalam paragraf. Pengertian yang kedua yaitu membaca fenomena-fenomena yang terjadi di alam semesta. Membaca sesuai pengertian ini misalnya memikirkan bagaimana terjadinya siang dan malam, peredaran planet mengelilingi matahari, dan penciptaan mahkluk.
Terdapat beberapa alasan mengapa kita harus senantiasa membaca. Pertama, membaca sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan. Kedua, membaca merupakan sarana pergaulan. Ketiga, membaca merupakan salah satu sarana hiburan. Keempat, membaca dapat mendatangkan rezeki. Kelima, membaca dapat menjadi sarana mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa. Keenam, membaca sebagai sarana koreksi diri.
Membaca adalah aktivitas memahami, menafsirkan, mengingat, lalu yang terakhir adalah menuliskannya kembali berdasarkan analisis fikiran kita sendiri.
Menurut Pawit M. Yusuf dalam kegiatan seminarnya tentang Indeks Baca di Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, membaca adalah berfikir. Tidak ada manusia yang hidup tanpa berfikir, karena sebagai mahkluk sosial ia selalu menghadapi berbagai masalah yang perlu dipecahkan.
Apa yang diketahui orang melalui kegiatan membaca pada hakikatnya adalah informasi. Artinya dengan membaca ia mendapatkan sejumlah informasi yang dalam keadaan tertentu bisa mempengaruhi sikap dan pandangan-pandangannya tentang perilaku kehidupannya. Sikap bisa berubah karena adanya terpaan informasi, kata Krech, dkk, (1968). Demikian pula kata Dwyer (1978) bahwa perilaku manusia bisa berubah karena membaca, meskipun membaca sebenarnya bukan satu-satunya faktor yang turut mempengaruhi sikap seseorang.
Melalui membaca orang bisa menjelajahi batas-batas ruang dan waktu. Peristiwa-peristiwa yang jauh terjadinya di masa lampau bisa diketahui melalui membaca. Demikian pula pristiwa yang terjadi di berbagai tempat di dunia ini bisa diketahui melalui membaca. Dengan demikian yang namanya membaca mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Adalah hal keliru jika memandang aktifitas membaca seolah-olah hanya “milik orang-orang sekolahan”, sehingga orang-orang yang tidak bersekolah dianggap tidak perlu lagi melakukan aktifitas membaca. Membaca pada dasarnya milik semua orang dan siapapun dapat melakukannya. Demikian juga dengan bahan yang dibacanya, tidak hanya berhubungan dengan hal-hal yang “serba serius”, dalam arti memerlukan proses kognisi tingkat tinggi, tetapi juga dapat berupa hal-hal yang ringan dan sederhana untuk sekedar memenuhi rasa ingin tahu seseorang, misalnya untuk memperoleh informasi tentang hasil pertandingan sepak bola, atau peristiwa-peristiwa lainnya yang terjadi pada suatu saat tertentu.
Di dalam buku Menjadi Guru Merdeka terjemahan dari A Pedagogy For Liberation Dialogues On Transforming Education, karangan Ira Shor dan Paulo Freire, makna membaca menurut Paulo Freire bukan sekedar berjalan atau melayang di atas lintasan kata-kata. Membaca adalah menuliskan kembali apa yang dibaca. Membaca adalah menemukan hubungan antara teks dan konteks dari teks bersangkutan, dan bagaimana menghubungkan antara teks atau konteks dengan konteks pembacanya.
Di Amerika pada masa lampau, kecepatan membaca perlu diukur, bahkan sampai dibuatkan rumus segala. Membaca seolah suatu kegiatan yang perlu kecepatan, seperti seorang berlari menuju finish. Namun dalam perkembangan selanjutnya, ternyata kecepatan membaca itu tidak harus selalu sama, tetapi fleksibel. Adakalanya kita harus cepat, adakalanya perlu memperlambat atau bahkan berhenti sebentar, lalu cepat lagi.



























BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Faktor yang mempengaruhi minat Baca
              Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya minat terhadap sesuatu dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu bersumber dari dalam individu yang bersangkutan dan yang berasal dari luar mencakup lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.
              Crow and Crow berpendapat menyebutkan bahwa ada tiga faktor yang menjadikan timbulnya minat, yaitu:
a.     Dorongan dari dalam individu
      Dorongan ingin tahu atau rasa ingin tahu akan membangkitkan minat untuk membaca, belajar, menuntut ilmu, melaksanakan penelitian dan lain-lain.
b.    Motif sosial
      Motif sosial ini dapat menjadi faktor yang membangkitkan minat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Minat untuk belajar atau menuntut ilmu pengetahuan timbul karena ingin mendapat penghargaan masyarakat, karena biasanya yang memiliki ilmu pengetahuan cukup luas (orang pandai) mendapat kedudukan yang tinggi dan terpandang dalam masyarakat.
c. Emosional
      Minat mempunyai hubungan yang sangat erat dengan emosi. Bila seseorang mendapatkan kesuksesan pada aktivitas akan menimbulkan perasaan senang, dan hal tersebut akan memperkuat minat terhadap aktivitas tersebut, sebaliknya suatu kegagalan akan menghilangkan minat terhadap hal tersebut. (Crow and Crow dalam buku Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab dalam Tri Sutaji, 2010: 13) 
       
3.2  Cara menumbuhkan Budaya Minat Baca
Membaca adalah salah satu aktivitas penting yang akan mengantarkan kita menjadi pribadi yang lebih unggul dan berkualitas. Namun untuk menumbuhkan rasa senang untuk membaca tidak lah mudah. Inilah satu hal yang sering dirasakan banyak orang. Hal itu wajar karena kebanyakan orang tidak tahu caranya bagaimana menumbuhkan minat membaca. Dari itulah berikut ada 8 cara efektif untuk menumbuhkan minat membaca, yang Insya Allah akan bermanfaat dan membuat anda senang untuk membaca.
1. Tentukan Tujuan Membaca
Pembaca yang baik adalah pembaca yang tahu betul akan tujuan ia membaca. Membaca bukanlah hanya aktivitas mata saja, tapi melibatkan aktivitas pikiran dan hati. Jika seseorang membaca buku tanpa tujuan maka apa yang dibacanya hanya akan sedikit saja memberikan manfaat. Berbeda dengan orang yang memiliki sebuah tujuan yang jelas. Sebelum ia membaca buku ia tahu betul buku mana yang dibutuhkan dan manfaat apa yang bisa diambil dari buku yang akan dibaca. Hal inilah yang selama ini kurang dipahami oleh banyak orang, sehingga mereka pun sulit menumbuhkan minat membaca dalam dirinya.
2. Buatlah Perencanaan Dalam Membaca
Dalam segala hal rencana selalu memegang peranan penting. Kenapa demikian? Karena perencanaan akan membantu seseorang menjadi lebih siap dalam menjalankan tugasnya. Apakah termasuk dalam membaca buku? Ya. Membaca buku juga butuh perencanaan. Dalam hal ini anda harus tahu betul kapasitas kemampuan anda yakni berupa waktu yang tepat, buku yang sesuai dan kapasitas menguasainya.  Setelah anda mengetahui kemampuan anda, teruskan dengan membuat target misalnya anda akan membaca 1 buku dalam waktu satu bulan, dalam waktu 6 bulan anda akan membaca 6 buku dan satu tahun akan membaca 12 buku. Dalam menyusun perencanaan ini awalnya sangat berat, tapi dengan sebuah kesungguhan dan komitmen manfaat besar akan anda raih di kemudian hari.
3. Mulailah Dari yang Paling Anda Sukai
Ketika seseorang ingin menumbuhkan semangat membaca buku, sebaiknya bacalah buku-buku yang paling anda sukai lebih dulu. Namun di sini anda juga harus melihat kualitas buku bacaan yang anda. Tentu saja buku yang baik dibaca adalah buku-buku yang bisa memberikan manfaat kepada diri anda, bukan malah sebaliknya meskipun anda suka. Mungkin ada yang bertanya jika tidak ada buku yang saya sukai bagaimana? Jika itu yang anda alami, saya sarankan banyak-banyaklah merenung, untuk menemukan masalah anda, karena hanya anda yang tahu tentang masalah itu.
4. Aturlah Waktu Anda
Tidak punya waktu satu alasan yang sering diungkapkan oleh seseorang ketika ditanya tentang membaca buku. Mungkin memang benar, karena kesibukan terkadang membuat menjadi capek dan sedikit punya waktu dibandingkan dengan seseorang yang aktivitasnya tidak banyak. Namun itu bukan alasan kenapa seseorang enggan membaca buku. Sebenarnya waktu itu banyak. Hanya saja seseorang cenderung mengingkarinya. Sekarang kalau kita mau jujur dalam sehari pastilah kita memiliki waktu luang, meskipun hanya antara 30 menit sampai  1 jam. Benar gak? Tidak…..!!! Ini adalah jawaban orang yang hidupnya saya yakin tidak menyenangkan, hehe. Saya rasa tidak perlu saya panjang lebar, intinya adalah  kenali waktu luang anda dan gunakan itu untuk membaca, kalau perlu bawalah selalu buku kemana pun anda berada, sehingga kapan saja ada waktu luang anda bisa membacanya.
5. Mulailah Secara Bertahap
Banyak orang ketika menemukan semangat membaca pertama kali, biasanya mereka ingin langsung membaca buku, ada juga yang langsung mencari buku di toko buku, kemudian ia menyempatkan waktu yang banyak untuk itu.  Sampai-sampai mereka mengorbankan waktu-waktu yang lain hanya untuk membaca buku, bagi mereka buku adalah hal yang sangat penting. Bagi orang yang seperti ini saya mengatakan “Santai saja bro…perlahan-lahan saja, tidak usah terlalu nafsu. Sesungguhnya membaca itu hanya butuh istiqomah atau kontinuitas, khususnya bagi mereka yang belum terbiasa membaca. Karena kalau tidak anda akan cepat merasa bosan.
6. Bersungguh-sungguhlah
Pernah mendengar pepatah Arab yang berbunyi “Man Jadda Wajada” yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Dalam membaca pun di butuhkan kesungguhan. Siapa orang yang bersungguh-sungguh dalam membaca, maka manfaat besar pun akan diraih. Sekarang coba anda tanyakan pada diri anda sendiri, selama ini sudahkah anda bersungguh-sungguh dalam membaca? Kalau sudah saya mengucapkan selamat, semoga manfaat besar akan segera anda raih. kalau belum, mulai detik ini segeralah rubah kebiasaan anda itu, mulailah mengambil sebuah tanggung jawab besar bahwa dengan membaca anda hidup anda dan hidup orang lain akan lebih bahagia.
7. Manfaatkan Sarana Yang Ada
Jika di sekolah atau di rumah anda ada perpustakaan maka manfaatkan sarana itu dengan baik. Tentunya tidak semua orang punya koleksi buku bacaan yang banyak dan bermanfaat. Karena itulah sarana yang ada ini harus anda manfaatkan dengan baik.
     




BAB IV
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
Membaca memiliki sangat banyak tujuan. Selain mendapatkan informasi, membaca juga dapat membuka wawasan yang sangat luas. Membaca juga merupakan kunci untuk membuka pintu gerbang kesuksesan. Tiada orang di dunia ini yang sukses tanpa membaca. Membaca juga merupakan sarana untuk menuntut ilmu pengetahuan. 

4.2  Saran
Saran dari penyusun untuk para pembaca adalah sangat tidak ada ruginya kita menjadi seorang yang sangat senang dengan membaca. Benar-benar tidak ada ruginya. Tidak perlu takut menjadi orang yang introvert, kaku, atau malah terkesan aneh karena kita kutu buku. Justru orang-orang yang saya kenal, yang kebiasaan membacanya kuat menjadi seorang yang sangat supel, hangat, dan nyambung dengan apapun yang dibicarakan












DAFTAR PUSTAKA







LAMPIRAN
Penanaman Budaya Gemar Membaca
clip_image002_thumb.jpg 
dakwatuna.jpg
peran-orang-tua-dalam-mendidik-anak.jpg