cari

Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kenakalan Remaja



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa transisi remaja merasakan keraguan dan kebingungan akan peran yang harus dilakukan dan status yang tidak jelas ini juga menguntungkan bagi remaja untuk mencari jati diri dan mencoba gaya hidup yang berbeda menentukan pola prilaku, nilai dan sifat yang sesuai bagi dirinya.
Karakteristik remaja yang sedang dalam tahap pencarian identitas menjadi rentan terhadap timbulnya permasalahan. Permasalahan pada remaja adalah prilaku yang dipandang sebagai masalah dalam segi sosial, atau hal yang tidak sesuai dengan norma dan ketentuan orang dewasa salah satu permasalahan yang kerap muncul pada masa remaja adalah tindakan kenakalan. Istilah kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang prilaku yang luas, mulai prilaku yang tidak dapat di terima secara sosial, pelanggaran, hingga tindakan tindakan kriminal. Kenakalan remaja didefinisikan sebagai pelanggaran hukum yang dilakukan oleh individu yang berusia di bawah 18 tahun.

Beberapa faktor seperti keluarga sekolah dan teman sepermainan dianggap menjadi faktor penyebab prilaku kenakalan remaja banyak ahli percaya bahwa keluarga yang bermasalah merupakan penyebab utama dalam pembentukan masalah emosional pada remaja yang dapat mengarah pada masalah sosial dalam jangka panjang dan orang tua yang mengacuhkan atau tidak memenuhi kebutuhan remaja dengan akan meningkatkan resiko keterlibatan remaja dalam prilaku sosial yang tidak dapat diterima seperti agresi dan masalah prilaku.

Orang tua dari remaja yang terlibat kenakalan remaja biasanya gagal dalam memberi penguatan pada prilaku positif terhadap perkembangan remaja hingga beranjak remaja kesalahan pola asuh sejak dini inilah yang merupakan akar utama yang menjadi penyebab asal masalah kenakalanremaja

             Dan remaja yang menjadi karakter seorang remaja karena keluarga merupakan kelompok kegagalan pola asuh orang tua berdampak sistemik dan terpahat dalam pikiran benak dan prilaku seorang sosial yang pertama bagi seorang remaja untuk mengetahui aturan aturan sosial yang berlaku dan keluarga juga diharapkan dapat menanamkan faham-faham positif tentang aturan kehidupan dan menanamkan kesadaran dan kontrol diri dalam karakter remaja. 
Hal ini menarik bagi penulis untuk menyusun karaya tulis ilmiah dengan judul: “Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kenakalan Remaja”
     
1.2 Rumusan Masalah
Mencermati uraian pada latar belakag maka dapat rumuskan masalah sebagai berikut:
a.       Bagaimana hubungan pola asuh orang tua dengan kenakalan remaja?
b.      Bagaimaana dampak dari pola asuh terhadap kepribadian remaja? 
c.       Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh?



1.3 Tujuan
a.       Mengetahui bagaimana hubungan pola asuh orang tua dengan kenakalan remaja
b.      Mengetahui bagaimaana dampak dari pola asuh terhadap kepribadian remaja
c.       Menjelaskan apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh

1.4 Metode Penelitian
Dalam melakukan penelitian penulis mempergunakan metode kepustakaan atau literatur. Yaitu metode penelitian dengan cara mengumpulkan data yang bersumber dari media buku, Koran, artikel dan situs atau web internet













BAB II
LANDASAN TEORI


2.1. Pola Asuh
2.1.1 Pengertian Pola Asuh Orang Tua
Pola asuh adalah pola perilaku orang tua yang diterapkan pada remaja yang bersifat relatif dan konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh remaja dari segi negatif maupun positif. Pada dasarnya pola asuh dapat diartikan seluruh cara perlakuan orang tua yang diterapkan pada remaja. Pengasuhan terhadap remaja berupa suatu proses Interaksi antara orang tua dengan remaja. Interaksi tersebut mancakup perawatan seperti dari mencukupi kebutuhan makan. Pendampingan orang tua diwujudkan melalui pendidikan cara-cara orang tua dalam mendidik remajanya. Cara orang tua mendidik remajanya disebut sebagai pola pengasuhan dalam Interaksinya dengan orang tua, remaja cenderung menggunakan cara-cara tertentu yang dianggap paling baik bagi dirinya (Rahmadiana, 2004). Orang tua harus bisa menentukan pola asuh yang tepat untuk kebutuhan dan situasi remaja, disisi lain sebagai orang tua juga mempunyai keinginan dan harapan untuk membentuk remaja menjadi seseorang yang dicita-citakan yang tentunya lebih baik dari orang tuanya (Rahmadiana, 2004). Setiap upaya yang dilakukan dalam mendidik remaja, mutlak didahului oleh tampilnya sikap orang tua dalam mengasuh remaja. Menurut Baumrind (1997), orang tua dalam mengasuh remaja seharusnya memperhatikan beberapa hal seperti perilaku yang patut dicontoh, kesadaran diri, dan komunikasi. Perilaku yang patut dicontoh menurut Baumrind (1997) memberikan arti setiap perilakunya tidak sekedar perilaku yang bersifat mekanik, tetapi harus didasarkan pada kesadaran bahwa perilakunya akan dijadikan lahan peniruan dan identifikasi bagi remaja-remajanya. Sementara itu kesadaran diri orangtua juga harus ditularkan pada remaja-remajanya dengan mendorong mereka agar perilaku kesehatannya taat kepada nilai-nilai moral. Oleh karena itu, orang tua senantiasa membantu mereka agar mampu melakukan observasi diri melalui komunikasi dialogis, baik secara verbal maupun non verbal tentang perilaku. Tidak kalah pentingnya yang perlu disiapkan oleh orangtua menurut Baumrind (1997) adalah pola komunikasi orangtua, dimana komunikasi dialogis yang terjadi antara orang tua dan remaja-remajanya, terutama yang berhubungan dengan upaya membantu mereka untuk memecahkan masalahnya. Pendidikan dalam keluarga memiliki nilai strategis dalam pembentukan kepribadian remaja. Semua sikap dan perilaku remaja yang telah dipolesi dengan sifat/pola asuh dari orang tua akan mempengaruhi perkembangan jiwa remajanya. Pola asuh orang tua berhubungan dengan masalah tipe kepimpinan orang tua dalam keluarga. Tipe kepimpinan orang tua dalam keluarga itu bermacam-macam, sehingga pola asuh orang tua bersifat demokratis / otoriter. Pada sisi lain, bersifat campuran antara demokratis & otoriter.
2.1.2. Macam Pola Asuh
Menurut Baumrind (1997), pola asuh yang dilakukan oleh orangtua kepada remajanya umumnya dilakukan melalui pola asuh otoriter, demokratis, permisif, dan pola asuh dialogis. Pola asuh otoriter adalah dicirikan dengan orang tua yang cenderung menetapkan standart yang mutlak harus dituruti, biasanya bersamaan dengan ancaman-ancaman. Orang tua cenderung memaksa, memerintah dan menghukum. Apabila remaja tidak mau melakukan apa yang dikatakan orang tua, maka orang tua tidak segan menghukum remajanya. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi dalam komunikasi, biasanya bersifat satu arah dan orang tua tidak memerlukan umpan balik dari remajanya untuk mengerti mengenal remajanya. Orang tua yang otoriter beranggapan bahwa mereka dapat merubah perilaku remaja yang tidak sesuai dengan nilai yang 7 7 mereka anut dengaa cara mencongkel yang mereka kehendaki tanpa memperdulikan perasaan remajanya (Baumrind, 1997). Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang mementingkan kepentingan remaja, akan tetapi tidak ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran dan orang tua bersikap realistis terhadap kemampuan remaja, memberikan kebebasan pada remaja untuk memilih dan melakukan suatu tindakan dan pendekatan pada remaja untuk memilih dan melakukan suatu pendekatan pada remaja bersifat hangat. Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik remaja yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan temannya dan mempunyai minat terhadap hal-hal baru (Baumrind, 1997). Pola asuh permisif umumnya dicirikan bahwa orang tua memberikan kesempatan pada remajanya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup. Orang tua cenderung tidak menegur / memperingati remaja apabila sedang dalam bahaya dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh orang tua. Namun orang tua type ini biasanya hangat sehingga disukai remaja. Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik remaja yang impulsive, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara social (Baumrind, 1997). Sedangkan pola asuh dialogis dicirikan bahwa orang tua akan membiasakan diri berdialog dengan remaja dalam menemani pertumbuhan / perkembangan remaja mereka. Setiap kali ada persoalan remaja dilatih untuk mencari akan persoalan, lalu diarahkan untuk ikut menyelesaikan secara bersama dengan demikian remaja akan merasakan bahwa hidupnya penuh arti sehingga dengan lapang dada dia akan merujuk kepada orang tuanya jika dia mempunyai persoalan dalam kehidupannya. Hal ini berarti pula orang tua dapat ikut bersama remaja untuk mengantisipasi bahaya yang mengintai kehidupan remaja-remaja setiap saat. Selain itu orang tua yang dialogis akan berusaha mengajak remaja agar terbiasa menerima konsekuensi secara logis dalam setiap tindakannya, sehingga remaja akan menghindari keburukan dia 8 8 sendiri, merasakan akibat perbuatan buruk itu, bukan karena desakan dari orang tuanya (Baumrind, 1997).
2.2 Definisi Perilaku
Perilaku berasal dari kata “peri” dan “laku”. Peri berarti cara berbuat kelakuan perbuatan, dan laku berarti perbuatan, kelakuan, cara menjalankan. . Belajar dapat didefinisikan sebagai satu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. 
Skinner membedakan perilaku menjadi dua, yakni : 
  1. perilaku yang alami (innate behaviour), yaitu perilaku yang dibawa sejak organisme dilahirkan yang berupa refleks-refleks dan insting-insting.
  2. perilaku operan (operant behaviour) yaitu perilaku yang dibentuk melalui proses belajar.
Pada manusia, perilaku operan atau psikologis inilah yang dominan. Sebagian terbesar perilaku ini merupakan perilaku yang dibentuk, perilaku yang diperoleh, perilaku yang dikendalikan oleh pusat kesadaran atau otak (kognitif). Timbulnya perilaku (yang dapat diamati) merupakan resultan dari tiga daya pada diri seseorang, yakni :
  1. daya seseorang yang cenderung untuk mengulangi pengalaman yang enak dan cenderung untuk menghindari pengalaman yang tidak enak (disebut conditioning dari Pavlov & Fragmatisme dari James);
  2. daya rangsangan (stimulasi) terhadap seseorang yang ditanggapi, dikenal dengan “stimulus-respons theory” dari Skinner;
  3. daya individual yang sudah ada dalam diri seseorang atau kemandirian (Gestalt Theory dari Kohler).
Perilaku adalah suatu reaksi psikis seseorang terhadap lingkungannya. Dari batasan dapat diuraikan bahwa reaksi dapat diuraikan bermacam-macam bentuk, yang pada hakekatnya digolongkan menjadi 2, yaitu bentuk pasif (tanpa tindakan nyata atau konkret) dan dalam bentuk aktif dengan tindakan nyata atau (konkret) 
Perilaku adalah keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya. Dalam pengertian umum perilaku adalah segala perbuatan tindakan yang dilakukan makhluk hidup. Perilaku adalah suatu aksi dan reaksi suatu organisme terhadap lingkungannya. Hal ini berarti bahwa perilaku baru berwujud bila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan tanggapan yang disebut rangsangan. Dengan demikian suatu rangsangan tentu akan menimbulkan perilaku tertentu pula
 

Proses pembentukan dan atau perubahan perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari diri individu itu sendiri, antara lain susunan syaraf pusat, persepsi, motivasi, emosi dan belajar. Susunan syaraf pusat memegang peranan penting dalam perilaku manusia, karena perilaku merupakan perpindahan dari rangsangan yang masuk ke respon yang dihasilkan. Perpindahan ini dilakukan oleh susunan syaraf pusat dengan unit-unit dasarnya yang disebut neuron. Neuron memindahkan energi dalam impuls-impuls syaraf. Perubahan perilaku dalam diri seseorang dapat diketahui melalui persepsi. Persepsi ini adalah pengalaman yang dihasilkan melalui indra pendengaran, penciuman dan sebagainya.

Para psikolog mengemukakan bahwa perilaku terbentuk dari adanya interaksi antara domain trikomponen sikap yakni interaktif antara komponen kognitif, afektif dan domain konatif. Namun masih terdapat kekeliruan yang menganggap komponen konatif salah satu komponen dalam trikomponent sikap sebagai perilaku (behaviour), sehingga perilaku dianggap sebagai salah satu komponen sikap (aptitude).
 
Para psikolog telah membedakan perilaku dan sikap sebagai dua gejala yang dapat berbeda satu sama lainnya. Lapiere ) telah meneliti dan menghasilkan poskulat variasi independent, intitemen yang dijelaskan dengan konsep adalah bahwa sikap dan perilaku merupakan dimensi dalam diri individu yang berdiri sendiri, terpisah dan berbeda.
 










BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Hubungan Pola asuh Orang Tua Dengan Kenakalan Remaja

Sifat dan perilaku remaja sangat dipengaruhi dengan pola asuh kedua orang tuannya. Terlalu memanjakan atau memandang sebelah mata keberadaan mereka, bisa berakibat buruk terhadap kepribadian mereka kelak (Surya. 2008). Oleh sebab itu, seringkali remaja-remaja yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan negif ataupun lingkungan yang kurang mendukung cenderung mempunyai konsep diri yang negative, dan sikap positif orang tua akan menimbulkan konsep dan pemikiran yang positif serta sikap menghargai diri sendiri (Qumana. 2008). Orang tua yang hangat, responsive, dan memiliki harapan-harapan yang relistik akan meningkatkan harga diri remaja, sedangkan orang tua yang perfecsionis, suka mengkritik, terlalu mengontrol attau terlalu melindungi, memanjakan, mengabaikan serta tidak memberikan batasan-batasan atau aturan-aturan yang jelas dan konsisten akan menurunkan, tingkat harga diri remaja.(Rusdijana. 2004). Remaja-remaja yang berasal dari keluarga-keluarga dimana terdapat penerimaan, rasa saling percaya, dan kecocokan diantara orang tua dan remaja, lebih baik penyesuaian dirinya, lebih mandiri dan berpandangan lebih positif tentang diri mereka sendiri. remaja-remaja yang berasal dari keluarga-keluarga dimana terdapat ketidak cocokan diantara anggota-anggota keluarga pada umumnya kemampuan untuk menyesuaikan diri kurang (Behrens. 1954). Juga memperlihatkan bahwa gaya pribadi orang tua dapat mempengaruhi konsep diri remaja untuk menjadi lebih baik ataupun lebih buruk.
Orang tua terlalu memaksakan kehendak antara lain peraturan yang dibuat untuk remajanya. Orang tua melakukan semua itu karena orang tua menginginkan remajanya tidak melakukan perilaku menyimpang (kenakalan remaja). Remaja dipaksa untuk mematuhi semua peraturan tersebut, sehingga remaja menjadi terpaksa untuk mematuhinya. Dilihat dari hasil data pembahasan di atas, orang tua yang memberikan pola asuh otoriter kepada remajanya lebih banyak melakukan kenakalan dari pada orang tua yang memberikan pola asuh demokratis dan permisif. Dari pola asuh tersebut remaja akan senantiasa menuruti orang tua sewaktu dirumah. Dan remaja akan melakukan suatu kenakalan diluar rumah, karena remaja beranggapan kalau dirinya bebas dan tidak ada yang mengaturnya
di luar rumah. Remaja akan melakukan suatu perilaku menyimpang (kenakalan remaja) antara lain kebut-kebutan dijalan, merokok, minum-minuman keras, dan lain sebagainya.
3.2 Dampak Pola Asuh terhadap Kepribadian Remaja
     a. Dampak positif pola asuh demokratis. 
Remaja akan lebih kompeten bersosialisasi, mampu bergantung pada dirinya sendiri dan bertanggung jawab secara sosial (King, 2010/2013). Remaja pun memiliki kebebasan berpendapat dan kebebasan untuk mengembangkan kreatifitas. Orangtua pun akan tetap membimbing remaja dan mempertimbangkan semua pendapat-pendapat remaja.
    b.  Dampak negatif pola asuh demokratis
Walaupun pola asuh demokratis lebih banyak memiliki dampak positif, namun terkadang juga dapat menimbulkan masalah apabila remaja atau orangtua kurang memiliki waktu untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, diharapkan orangtua tetap meluangkan waktu untuk remaja dan tetap memantau aktivitas remaja. Selain itu, emosi remaja yang kurang stabil juga akan menyebabkan perselisihan disaat orangtua sedang mencoba membimbing remaja.
    c. Dampak positif pola asuh otoriter.
 Pola asuh ini lebih banyak memiliki dampak negatif. Remaja akan lebih disiplin karena orangtua bersikap tegas dan memerintah. Orangtua pun akan lebih mudah mengasuh remaja karena remaja takkan memiliki masalah di bidang pelajaran dan tidak akan terjerumus ke dalam kenakalan remaja atau pergaulan bebas.
d.  Dampak negatif pola asuh otoriter. 
Menurut Dariyo (2007) remaja yang dididik dengan pola asuh otoriter cenderung tumbuh berkembang menjadi pribadi yang suka membantah, memberontak dan berani melawan arus terhadap lingkungan sosial. Biasanya pola asuh ini disebabkan oleh kekhawatiran orangtua. Orangtua khawatir kemudian secara sadar atau tidak membuat remaja mengalami pembatasan ruang gerak, mengalami pengekangan kreativitas dan pembunuhan rasa ingin tahu (Aprilianto, 2007).    
e.Dampak positif pola asuh permisif. O
rangtua akan lebih mudah mengasuh remaja karena kurangnya kontrol terhadap remaja. Bila remaja mampu mengatur seluruh pemikiran, sikap, dan tindakannya dengan baik, kemungkinan kebebasan yang diberikan oleh orangtua dapat dipergunakan untuk mengembangkan kreativitas dan bakatnya, sehingga ia menjadi seorang individu yang dewasa, inisiatif, dan kreatif (Dariyo, 2007). Artinya, dampak positif akan tergantung kepada bagaimana remaja menyikapi sikap orangtua yang permisif.
    

f. Dampak negatif pola asuh permisif. 
Remaja akan tumbuh menjadi remaja yang tidak terkontrol. Remaja memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pergaulan bebas yang pada akhirnya merugikan pihak remaja dan orangtua. Dampak negatif pola asuh ini juga akan membuat remaja memiliki kemampuan komunikasi yang buruk.
 g. Dampak positif pola asuh situasional. 
Dampak positif di pola asuh ini sangat sedikit karena merupakan pola asuh campuran dari demokratis, otoriter, dan permisif. Salah satunya adalah orangtua bebas menerapkan peraturan apapun dirumah dan terkadang juga tidak perlu repot mengawasi remaja. Orangtua  pun dapat bersikap fleksibel terhadap remaja.
h. Dampak negatif pola asuh situasional
Dengan campuran pola asuh demokratis, otoriter, dan permisif, remaja akan memiliki pendirian yang kurang stabil. Remaja pun akan merasa ketergantungan terhadap orang lain. Hal ini membuat remaja akan kurang nyaman dengan kondisi keluarga.

 3.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh
Menurut Soekanto (2004) perilaku pola asuh orangtua yang diterapkan pada remajanya dipengaruhi oleh factor tingkat pendidikan, lingkungan, dan social budaya. Tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua serta pengalaman sangat berpengaruh dalam mengasuh remaja. Peranan orangtua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan alternatif jawaban dari hal - hal yang dipertanyakan oleh putra-putri remajanya. Orangtua yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban dan alternatif supaya remaja itu bisa berpikir lebih jauh dan memilih yang terbaik. Sebaliknya orangtua yang tidak mampu memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikap kaku akan membuat sang remaja tambah bingung. Remaja tersebut akan mencari jawaban di luar lingkaran orangtua dan nilai yang dianutnya. Ini bisa menjadi berbahaya jika “lingkungan baru” memberi jawaban yang tidak diinginkan atau bertentangan dengan yang diberikan oleh orangtua. Konflik dengan orangtua mungkin akan terjadi dan semakin buruk (Soekanto, 2004). Seringkali orangtua mengikuti cara-cara yang dilakukan oleh masyarakat dalam mengasuh remaja. Karena pola-pola tersebut dianggap berhasil dalam mendidik remaja kearah kematangan. Orang tua mengharapkan kelak remajanya dapat diterima di masyarakat dengan baik. Oleh karena itu kebudayaan atau kebiasaan masyarakat dalam memberikan pola asuh pada remajanya.















BAB IV
PENUTUP


4.1 Kesimpulan
Kenakalan remaja yaitu merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang.. Pola asuh orang tua merupakan suatu pola interaksi antara remaja dan orang tua (ibu dan ayah) selama mengadakan pengasuhan. Di dalam pengasuhan ini tidak hanya bagaimana orang tua memperlakukan remaja melainkan membina serta melindungi remaja untuk mencapai kedewasaan remaja itu sendiri. Dari hasil pembahasan di atas diharapkan dapat memberikan manfaat bagi keluarga untuk digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam membina perilaku remaja sebagai remaja yang baik.
4.2 Saran
Agar para remaja tidak mudah terpengaruh ke dalam pergaulan negatif serta dapat mengontrol perilaku mereka baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Selain itu juga sebaiknya orang tua lebih bijaksana dalam menerapkan pola asuh terhadap remaja remajanya agar dapat menjalin komunikasi yang lebih baik lagi sehingga menciptakan kehidupan yang harmonis antara remaja dan orang tua. Serta orang tua lebih meningkatkan lagi dalam memberi pengawasan dan membimbing remaja dalam bersikap serta berperilaku dan kepada masyarakat agar turut serta menciptakan situasi kehidupan yang memperlihatkan nilai-nilai atau norma-norma yang sudah ada dan peran serta masyarakat untuk ikut membantu mengawasi perilaku remaja yang ada disekitar 
DAFTAR PUSTAKA

Habie (2008) hal – hal yang mempengaruhi kenakalan remaja.http://www.h4b13.wordpress.com
Kartono 2003.Patologi Sosial 2. Kenakalan Remaja. Jakarta : Rajawali Pers.
Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
Notoatmodjo S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Yogyakarta.
Sarwono, S.W. 2002. Psikologi Remaja. Edisi Enam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Santrock 1996. Adolescence.Perkembangan Remaja. (terjemahan). Jakarta: Erlangga.
Shochib, Mohammad. (1998). Pola asuh orang tua dalam membantu remaja mengembengkan disiplin diri. Jakarta: Rineka cipta

Tidak ada komentar: